Sore itu mesjid terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang akhwat saja yang sedang berdiskusi. Setelah seharian bekerja, tentunya badan ini terasa lelah. Mesjidpun lalu menjadi pilihanku untuk beristirahat. Meski sejenak, kucoba lepaskan lelah sambil menunggu waktu kuliah.
Kusandarkan tubuh di pilar masjid. sambil menunggu Adzan Maghrib, kupejamkan mata sesaat.
Tak berapa lama, Adzan Maghribpun ber kumandang. Aku bergegas bangkit, dengan sedikit kekagetan. Tak ada seorangpun di sekitarku. Aku turun mengambil air wudhu, dan kulihat di sana, ada dua orang akhwat mengenakan seragam sekolah. Yang satu memakai jilbab panjang rapat, sedangkan yang satunya tidak mengenakan jilbab. Sesaat mata kami bertemu dan kami pun saling bertukar senyum. Selesai mengambil air wudhu, aku pun berlalu meninggalkan mereka.
Di lantai atas, di tempat shalat para akhwat, kami bertemu lagi. Jadilah hanya kami bertiga yang akan menunaikan shalat Maghrib saat itu. Cukup lama kami menunggu qomat di kumandangkan. Aku cemas, karena aku harus segera pergi ke Depok untuk mengikuti kuliah.
Akhirnya, salah seorang dari mereka memanggilku untuk ikut berjamaah. Dengan cepat aku melangkah menuju barisan. Dan dengan cepat pula mereka saling menjauh dan memberikan tempat di tengah-tengah untuk ku. Duh! “Bukankah itu tampat imam” hatiku berkata. Selama ini aku belum pernah menjadi imam. Meskipun aku berjilbab dan sedang mengikuti program Tahsin Qur’an (Perbaikan bacaan Qur’an), aku belum berani untuk memposisikan diriku sebagai imam. Apa yang harus aku katakan pada mereka, hatiku berpikir keras. Sungguh malu aku pada mereka.
Lalu penolakan itu terlontar juga dari mulutku. “Ehm…adik saja yang jadi imam ya…” kataku dengan berat hati, sambil tersenyum malu. Akhirnya ia mau, meskipun aku melihat ada gurat kekecewaan di wajah salah satu dari mereka. Entah apa yang ia pikirkan tentang diriku. “Mbak ini udah pakai jilbab kok nggak bisa jadi imam..memalukan saja” mungkin seperti itu yang ada dalam benaknya. Wallahu a’lam. Namun aku tetap berhusnudzon dengan harapan bisa menemukan hikmah dari kejadian ini. Setelah selesai shalat, kamipun saling bersalaman. Karena ku harus pergi, maka aku segera turun meninggalkan mesjid dengan sejuta rasa malu di hati. Do’a ku waktu itu..
Yaa Rabb
Sungguh malu aku pada-Mu..
Sungguh malu aku pada akhwat itu..
Sungguh malu aku pada jilbabku
Sungguh malu aku pada diriku..
Tak banyak surat dari-Mu yang ku hafal&
Tak merdu suara ku tuk lantunkan ayat-Mu di setiap shalatku..
Yaa…Rabb..
Ampuni hamba-Mu ini..
Semoga aku dapat mengambil hikmah dari kejadian ini..
Tuk perbaikan diri ini..
Kelak di suatu hari
Kejadian ini tak kan terulang lagi
Untuk yang kedua kali
Atas izin-Mu aku berjanji
Aamiin…Aamiin..Yaa..Rabbal a’lamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s