Seperti Biasa, yang kulakukan awalnya memang memasang judul terlebih dahulu pada post di blogku ini,  supaya mengingatkan akan kejadian-kejadian yang kualami saat itu, ini menjawab juga komen dari temen lama jaman kuliahku…(apa kabar mas bro??)…

Menggelandang pada tanggal 3 Oktober 2011,

Menggelandang ada salah satu aktifitas yang mungkin menurut orang adalah jorok  atau bahkan memalukan jika kita melihat sendiri ada orang yang berprofesi sebagai “gelandangan“,  dengan muka hitam yang terbakar panas matahari, baju yang tak pernah ganti, tidur ditempat seadanya,  bahkan makan minumpun sedapatnya dan seadanya…

Siapa saja yang menjadi gelandangan tersebut, ya…biasanya sich sejenis kita juga,  sama-sama makhluk hidup, yang bernama manusia, mereka sama-sama seperti kita,  seorang manusia, yang punya perasaan sama seperti kita,  cuma cara mereka hidup dan berperilaku yang berbeda,  atau ada yang menganggap “derajat” mereka berbeda…hmm sebuah pola pikir yang menurutku aneh…

Kulakukan aktifitas “menggelandang” ini memang sengaja, dengan tujuan yang mungkin beberapa orang tidak akan pernah menerima dengan akal logika mereka,  memang pekerjaan dan penghasilanku sudah cukup menghidupiku di ibukota yang masih hidup seorang diri,  namun bukan berarti aku lupa dari asal mula keberadaanku…

Bagiku kehidupan di dunia itu, seperti roda berputar, kadang diatas, terkadang pula dibawah,  tak ada yang abadi di dunia ini, semua ini hanyalah sementara,  itulah beberapa kata yang sering aku dengar dan kutip, walaupun tak pernah aku tahu apa maknanya…

Malam itu, menunjukkan pukul 22.00, mendung menyelimuti kota Jakarta yang panas,  sehingga terasa hawa dingin menyembul keluar dari dalam tanah.  Saat itu aku sedang menikmati suasana diteras dikosan, hmm…nikmat memang… hanya terdengar beberapa motor dan mobil yang sibuk lalu lalang,  dan beberapa orang yang sedang bercakap-cakap diramaikan dengan suara wajan yang beradu dengan pasangannya. Suara gluduk yang ditemani kilatan petir menambah kesan dingin dan tak bersahabatnya suasana malam itu,  akhirnya timbul keinginanku untuk “menggelandang“.

ku ingin ikut merasakan apa yang saudara-saudaraku rasakan,  ya karena hampir setiap malam, ku mondar-mandir dijalan ruko yang biasa aku lewati,  kusaksikan ada gelandangan-gelandangan yang tidur diatas gerobak sampah mereka,  dan bahkan pernah ada, kulihat ada seorang bayi kecil mungil, yang mungkin baru berusia kurang lebih 3 bulan, sedang disusui ibunya, mungkin hal ini wajar, tapi yang membuatku meneteskan airmata adalah  bayi itu sedang disusui ibunya dengan posisi tertidur didepan ruko, dengan digelar beberapa alas tidur,  kaget, terharu, anak sekecil itu sudah merasakan kerasnya hidup. karena alasan inilah, aku ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana mereka menjalani malam yang dingin itu.

Setelah beranjak dari kosanku, hanya memakai kaos putih kumal dan celana pendek warna coklat yang warnya hampir menyerupai warna kaosku.  Kulangkahkan kakiku menelusuri jalan yang biasa aku lewati, hujan gerimis mendampingi perjalananku malam itu. dingin…huft…beberapa kali kutiupkan nafasku lewat genggaman tanganku yang sedang beradu. kulihat mereka sedang mencari posisi tidur dimana tidak akan ada air yang menembus dan membasahi tempat tidur mereka,  selimut-selimut dari karung beras mereka gelar, agar tak terlampau dingin dalam melewati malam itu.

aku menangis, air mata ini menetes, apakah aku kurang bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan selama ini,  Rahmat dari Allah, Karunia dan Rejeki yang melimpah, Hamba takut lupa untuk bersyukur dan berbagi kepada saudara-saudaraku yang sedang membutuhkan uluran tanganku…

Ya Robb…pantaskah hamba menerima RahmatMu yang membuat Hamba lupa, pantaskah hamba menerima RejekiMu yang membuat Hamba Riya…pantaskah Hamba menyombongkan diri kepada mereka, sedangkan mereka lebih ikhlas menerima apapun pemberianMu, Ampuni HambaMu ini Ya Robb,…

Sejenak kukontrol diriku agar tak menangis, segera kulangkahkan kaki kembali, kuambil air wudhu, kutunaikan sholat sunnah Hajat,  dan kupanjatkan doa untuk saudara-saudaraku agar mereka diberikan derajat yang lebih mulia karena mereka ikhlas dan mencari dengan cara yang halal walaupun dengan “menggelandang

  • Dunia ini hanyalah tempat untuk kita beradu dan berlomba, mencari amalan-amalan terbaik untuk bekal kita di akherat nanti…
  • jangan Hina para gelandangan, karena mereka bukan kotoran, mereka juga manusia layaknya seperti kita

2 thoughts on “Menggelandang 03102011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s