Semalam, saya sedang membaca buku, Belajar pada Kehidupan, sebuah karya dari Dwi Bagus MB, yang didasarkan pada kisah-kisah nyata…

Perlahan kubaca dari Kata Pengantar, hingga daftar isi, kubaca tiap-tiap kata, pandanganku tertuju pada salah satu judul kejadian di daftar isi, “Susah Lantaran Anak”, sepenggal kisah yang mungkin sering kita jumpai, atau bahkan sering kita jumpai…Kesusahan yang dialami Orang Tua karena Anak…saya yakin, pasti banyak timbul pertanyaan dalam benak saudaraku…terlalu banyak kesusahan yang sudah dialami Orang Tua demi seorang anak, namun kenapa cerita ini sangat menarik untuk saya angkat dalam blog ini…untuk lebih jelasnya, saya kutip ceritanya langsung dari sumbernya…

===================================================================================

Susah Lantaran Anak

Banyak orang tua yang mati-matian berjuang demi anak-anaknya. ada juga orang tua yang kadang-kadang tidak sabar menghadapi ulah anaknya, bahkan terhadap anaknya yang masih balita. Sering kita mendengar orang tua yang menganiaya anak-anaknya sampai babak-belur. Ada orang tua yang dilaporkan ke polisi karena menghajar anaknya sampai klenger. Bahkan ada juga orang tua yang ditahan aparat kepolisian gara-gara membunuh anaknya. Na’uzhubillahi min dzalik!

Pernah suatu ketika, saya (penulis) belanja di pasar tradisional. Saya senang mendatangi pasar tradisional karena interaksi sosial disana masih kuat. Kita masih bisa tawar-menawar dan bisa berkomunikasi dengan penjual, bukan dengan angka-angka di kemasan barang. Saya lupa saat itu sedang beli apa. Tapi saya ingat, disamping saya ada seorang ibu muda yang sedang menggendong anaknya. Saya perkirakan anaknya berusia tiga atau empat tahun.

Anak si ibu muda ini menangis sambil meronta-ronta. Ibu muda itu, entah kenapa karena malu atau karena memang sifatnya, marah kepada si anak. Anak itu dipukuli tangannya. Tentu saja tangisan anak itu makin keras. Orang-orang yang ada disekitar kami mengarahkan pandangan mata mereka kepada ibu muda itu. Saya melihat dengan miris, anak itu menangis sampai sesegukan.

“Diem nggak lu!!Rewel banget sih lu!”

Bentak si ibu muda. Anaknya bukannya diam, malah terus menangis. Si Ibu makin kalap. Dia pukul mulut anaknya bebrapa kali, walaupun tidak terlalu keras.

“Diem gue bilang!”

Si anak menjerit-jerit sambil meronta. Dengan gemas dia mencubi pipi anaknya. Saya menarik nafas, prihatin. Orang-orang juga kelihatannya kasihan melihat anak si ibu muda itu, yang terus saja menangis. Saya pikir, orang-orang yang ada disana, termasuk saya, tidak akan terganggu kok, dengan tangisan anak si ibu muda. Namanya juga anak keci, masih digendong pula. Karena nggak tahan melihat si ibu muga yang selalu “main tangan”, saya dekati si ibu.

“Bu, jangan dikerasin gitu!”, tegus saya.

“Abisnya, nggak ngerti banget!disuruh diem, malah kejer!”

“iya, tapi janga dikerasin!” kata saya mengingatkan.

Dia tampaknya tidak suka saya tegur begitu. Meski kemudian dia tidak lagi memukuli atau mencubiti anaknya. Setidaknya tidak didepan kami saat itu. Dan, terbukti sesaat kemudian anak si ibu reda tangisannya.

Saya tidak habis fikir, bahkan saya tidak mengerti apa maksud si ibu muda ketika bilang “Abisnya, nggak ngerti banget!disuruh diem, malah kejer!”

Bagaimanakan seharusnya anak usia balita memahami pikiran dan perasaan orangtuanya?

Apakah seorang anak kecil harus mengerti kata-kata dan keinginan orang tuanya?

Tentu saja, meminta seorang anak balita mengerti keinginan orang tuanya adalah tuntutan yagn sangat berlebihan, bahkan tidak masuk akal.

Bukankah kita, sebagai orang dewasa, juga sering tidak mengerti apa keinginan anak-anak kita? Bahkan, sebagai suami kita sering tidak bisa mengerti keinginan atau perasaan istri kita. Demikian jug sebaliknya, sebagai istri, kita acapkali tidak memahami apa yang diinginkan suami kita.

Saya ngeri membayangkan, bagaimana pertumbuhan kejiwaan anak si ibu muda itu, kalau setiap hari dia mengalami perlakuan kasar seperti itu. Perlakuan dari seseorang yang seharusnya bisa menjadi tempat dia mendapatkan curahan kasih sayang. Saya terus terang tidak mengerti jalan pikiran si ibu muda. Apalagi anaknya yang masih balita itu….

===================================================================================

Itulah kehidupan yang sering kita jumpai dan bahkan sering kita alami, kekerasan yang kita terima semasa kecil, dari jeweran, pukulan di pantat, entah pakai tangan atau sapu lidi, bahkan ketika aku menulis ini, aku teringat adikku yang paling kecil yang sekarang masih kelas 3 SD, bagaimana dia setiap hari menerima perlakuan dari ibuku,

Jujur, awalnya aku tak tahan, karena perlakuan keras dari ibuku terhadap adikku, karena aku juga mengalaminya dulu sewaktu kecil. Namun perlahan aku menyadari, kerasnya sikap ibuku terhadap adikku adalah wujud kasih sayang, wujud mendidik bahwa kita juga harus menjadi lebih dewasa dalam bersikap, karena tak mungkin setiap saat ketika kita melakukan sebuah kesalahan, ada ibu atau orang tua kita yang akan mengingatkan. Namun bukan Kekerasan yang sampai menimbulkan hilangnya nyawa seseorang.

Seperti juga kita menghadapi hidup, apakah kita juga akan menangis, karena kita tak tahan dengan keras dan bengisnya hidup ini, apakah itu wujud bahwa Tuhan tidak sayang kepada kita, lantas apa tujuanNya, Tuhan memberikan kita berbagai Ujian kepada kita, terkadang sampai kita tak tahan, dari tak ada makanan, tak ada uang, tak ada tempat tinggal, tak ada orang tua, tak ada orang yang kita sayangi, lalu apa tujuan Tuhan memberi ujianNya??

supaya kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih peka, lebih indah, lebih cakap, lebih cerdas, lebih kuat, lebih gagah, lebih termotivasi, lebih..lebih dan lebih……

Tidak selamanya kekerasan itu buruk, dan tak selamanya kelembutan itu baik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s