Aku adalah bangkai

terpuruk dalam ketiadaan

setiap mata memandangku jijik dan menatap sinis

harap pun menguap

sembari berkata

“kubur saja, karena tak berarti bagi kami”

kenapa mereka melihatku

apa karena hitamnya kulitku,

apa karena keriting rambutku,

apa karena buta mataku,

apa karena sumbing bibirku,

apa karena tuli telingaku,

apa karena buntung tanganku,

sebuah mutiara terkubur, tertutup busuknya raga

cahaya sejati mutlak membiaskan pandang silaunya

biarlah sang mentari bersembunyi dalam kabut khatulistiwa

dan berharap hangatnya mampu mengubah fatamorgana

menjadi sinar penerang dalam gelap naluri

ketiadaanku memang tak berarti

karena aku tiada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s