Orang Miskin Yang Sombong.

Kesombongan merupakan sesuatu yang dibenci Allah Swt, orang kaya yang sombong dengan sebab kekayaannya saja Allah benci, apalagi kalau orang miskin menyombongkan diri dalam soal harta sehingga dia menampakkan dirinya seperti orang kaya dengan penuh kesombongan.

Kebencian Allah kepada orang kaya yang sombong itu dikemukakan dalam firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri” (QS 28:76).

Maka dengan sebab kesombongan Karun yang kaya itulah, Allah Swt betul-betul mengazabnya di dunia ini sebagaimana firman-Nya yang artinya: Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Kalau Karun yang kaya raya tapi sombong dibenci dan diazab Allah Swt, apalagi orang miskin yang amat tidak pantas menyombongkan diri, maka bila ada orang miskin sombong, bisa jadi Allah lebih murka lagi. Tegasnya, tak ada tempat di sisi Allah buat siapapun yang menyombongkan diri, Allah berfirman yang artinya: Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong (QS 16:23).

Meskipun demikian, orang yang miskin bukan berarti harus minder, tapi dia juga harus tawadhu atau rendah hati. Miskin dan kaya bukanlah ukuran ketaqwaan kepada Allah, namun keduanya bisa membawa manusia pada ketaqwaan tapi juga bisa membawa manusia pada kemurkaan.

Kemiskinan ini juga tidak berarti diwujudkan dalam hal materi, namun juga berlaku untuk ilmu agama. Bayangkan jika ada orang yang tidak tahu mengenai ilmu agama, atau tahu ilmu agama walaupun sedikit, dia sudah sombong, dengan bangganya merasa pintar dalam hal agama, bahkan sama sekali tidak tercermin dalam kehidupannya, bahwa dia orang yang tahu ilmu agama.

Banyak sekali terjadi dilingkungan sekitar kita, sudah punya titel HAJI, atau HAJJAH, namun masih saja membuka auratnya, masih suka memfitnah orang, masih suka iri dan sombong dengan orang sekitarnya, merasa sudah HAJI atau HAJJAH, maka ketika ada acara besar Keagamaan, maka dia merasa yang lebih berhak untuk menjadi tokoh utama didalam acara tersebut. Sudah melaksanakan rukun Islam yang kelima pun, masih saja tidak bisa membedakan harta Haram atau Halal, mulutnya tak pernah dijaga untuk mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat daripada kata-kata yang menyakiti hati.

Allah tidak menilai dari pangkat, titel, golongan atau apapun itu, yang Allah nilai hanyalah kejernihan hati kita, untuk selalu MEMPERBAIKI DIRI (INTROSPEKSI DIRI) bukan merasa paling didzolimi, namun berkaca dengan diri sendiri akan perbuatan yang telah kita lakukan selama ini, apakah sudah baik atau belum, ataukah ini balasan dari perbuatan kita yang dulu. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s