Penguasa Yang Lalim.

 

Hadits di atas juga menyebutkan penguasa yang lalim termasuk manusia yang dimurkai Allah Swt, hal ini karena penguasa semestinya menjadi pelayan bagi masyarakat, bukan malah sebaliknya. Dalam perjalanan kehidupan umat manusia, amat banyak penguasa yang maunya dilayani oleh masyarakat bahkan cenderung menyakiti rakyatnya.

Oleh karena itu, manakala ada penguasa yang zalim, cepat atau lambat, dia akan tumbang dari kekuasaannya dengan berbagai cara dan sebab. Begitulah memang yang telah terjadi pada Fir’aun yang ditumbangkan oleh anak angkatnya sendiri, yakni Musa AS, Namrut yang ditumbangkan oleh Ibrahim AS, Abu Jahal dan Abu Lahab yang ditumbangkan oleh keponakannya sendiri Nabi Muhammad saw dan penguasa-penguasa yang zalim lainnya.

Bahkan di bangsa Indonesia sekarang, terdapat banyak pemimpin yang zalim, yang melepaskan atribut keagamaannya hanya sekedar ingin berkarir, dan melupakan semua aturan hanya untuk mengeruk keuntungan duniawi, tak pelak sikap merekapun tak jauh dari Angkuh, Sombong, Iri, dll. Sehingga banyak timbul gesekan dalam pekerjaan yang menyebabkan pegawai tak betah, ataupun tak bisa menikmati pekerjaannya.

Di dalam Islam, kepemimpinan atau kekuasaan merupakan amanah yang tidak boleh disia-siakan. Bagi seorang muslim, kesempatan memimpin akan selalu digunakan untuk syiar dan penegakan nilai-nilai Islam, apapun kedudukan atau jabatan yang dipegangnya. Itu sebabnya, kepemimpinan bukan peluang untuk meraih keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya, apalagi hal itu akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah Swt.

Pemimpin dalam hal ini tak hanya pemimpin yang memiliki jabatan, Namun juga termasuk pemimpin dalam ruang lingkup Diri sendiri, Keluarga, Saudara, Tetangga, Teman, Masyarakat (RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kota, Provinsi, Presiden), dan juga Kelompok.

Dalam hal ini jelas, bahwa setiap manusia akan menjadi Pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri, bahkan ini yang sering kita baik sadari ataupun tidak, terkadang bertindak berlebih terhadap tubuh kita sendiri, dari waktu istirahat yang tidak teratur, makan yang tidak tepat waktu, sehingga menyebabkan jatuh sakit. Zalimnya kita terhadap diri sendiri juga akan dimintakan tanggung jawab dihadapan Allah, dan tiap-tiap bagian dari tubuh kitapun akan bersaksi atasdigunakan untuk apa saja seumur hidupnya.

Pemimpin bagi Keluarga, dalam keluarga yang terdiri Bapak, Ibu, Anak, jadilah pemimpin yang bisa dijadikan tauladan bagi anak, pelindung bagi istri, peneduh bagi semua masalah yang menerpa hidup, jangan sekali-kali menjadikan keluarga adalah tempat untuk membuang segala amarah ketika segala permasalahan yang hadir, Jadilah pemimpin yang bisa mengayomi dalam keluarga, yang bisa meneduhkan semua permasalahan yang dihadapkan oleh istri dan anaknya.

Pemimpin dalam persahabatan, Zalim dalam persahabatanpun termasuk dalam hal ini, ketika kita merasa lebih dari teman kita yang kekurangan dan sangat membutuhkan pertolongan. Zalim karena kepemimpinan kita dalam pertemanan, Tak pelak hal ini yang sering kita rasakan, bahkan terhadap sesama temanpun kita bebas untuk bertindak, bahkan lupa bagaimana kita menjadikan teman itu adalah tempat untuk berbagi. Jangan merasa pintar, merasa bisa, merasa kaya, dan merasa semuanya sehingga kitapun bertindak zalim terhadap persahabatan.

Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa, kemurkaan dan kecintaan Allah Swt kepada manusia sangat tergantung kepada manusia itu sendiri. Apabila manusia melakukan hal-hal yang Allah senang, maka Allah akan mencintainya dan bila manusia melakukan hal-hal yang Allah benci, maka Allah akan murka kepada-Nya

Sumber : dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s