Salah satu ungkapan yang mungkin sering kita dengar, kata-kata bijak yang sederhana namun maknanya luar biasa “Ojo nduweni roso Rumongso Iso, tapi nduwe roso Iso Rumongso”, mungkin beberapa orang masih asing, yang memang tidak punya garis keturunan orang tuanya jawa, mungkin akan bertanya-tanya. Asal muasal kata-kata bijak inipun, belum aku ketahui siapa yang dengan indah menciptakannya, mungkin pembaca ada yang tahu siapa pencetus kata-kata ini????

Kata-kata ini bukan berasal dari orang yang menjalani hidup dengan biasa, namun dengan sangat luar biasa, menjalani dengan ‘laku’, ‘roso’, dan ‘temenan’, sebuah jalan pencarian menuju kehadapan Sang Penguasa Alam Raya, yang telah sangat luar biasa diciptakan untuk kita tempati sekarang.

Kata-kata ini bukan hanya berasal dari perenungan pencetusnya, namun juga mencermati perkembangan jaman yang telah dengan mudah ‘menggerus’ tingkah laku kita sebagai orang Timur, yang sangat memegang teguh tata krama dan norma yang seharusnya kita junjung tinggi, namun tetap saja kita masih nikmat terpengaruh dengan budaya-budaya yang sekarang digandrungi hampir semua anak muda, budaya bangsa Barat.

Makna Ojo Rumongso Iso, tapi Iso Rumongso

saatnya mengungkap kata-kata bijak ini, dengan mengurainya satu-persatu

“Ojo nduweni roso Rumongso Iso, tapi nduwe roso Iso Rumongso”, kurang lebih artinya seperti ini “Janganlah memiliki rasa atau tingkah laku “Merasa Bisa”, tapi milikilah rasa “Bisa” tapi “Merasa”. bingung kan???hehehe

ada 2 kalimat yang dipenggal dari kata-kata bijak ini, kalimat negatif, dan kalimat positif, diawali dari ketidak memiliki, kemudian diakhiri kepemilikan.

Kalimat yang negatif adalah kata Ojo nduweni roso Rumongso Iso maksudnya adalah, janganlah diri kita ini, memiliki rasa atau sikap “Merasa Bisa”, contohnya adalah jika ada suatu pekerjaan, kita langsung terima karena kita merasa bisa, sedikit-sedikit kita merasa bisa mengerjakannya, tapi sebenarnya kita tidak mampu mengembannya, karena kita berfikiran biar nanti dikerjakan dengan orang lain yang lebih ahli, atau yang penting kita mendapat nilai lebih dihadapan pimpinan kita, inilah yang membuat celaka bagi kita sendiri, maupun perusahaan kita, Amanah yang diberikan merupakan tanggung jawab kita untuk menjaganya dengan sebaik mungkin, sebisanya kita kurangi atau kita cegah Rasa atau sikap Ojo Rumongso Iso

Kalimat yang positif adalah kata  tapi nduwe roso Iso Rumongso maksudnya adalah ketika seseorang diberikan pekerjaan, atau amanah, bukan berarti kita merasa tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang diberikan, namun kita dahulukan orang lain terlebih dahulu karena inilah letak kekuatan kata-kata ini, mendahulukan orang lain, karena sebenarnya kita bisa, tapi merasa orang lain lebih membutuhkan pekerjaan itu.

contoh lainnya :

Dalam sebuah perjalanan yang jauh, dalam suatu kelompok banyak orang yang haus, sedangkan cadangan air minum yang ada hanya kita yang memilikinya, lantas apakah karena hanya kita yang mempunyai kekuasaan untuk menghabiskan air yang kita miliki, kita bisa menghabiskannya, dihadapan orang-orang yang lebih membutuhkan, dan kita sudah puas dengan kekuasaan yang kita miliki karena kita bisa mengambil keuntungan,dengan menjual dengan air dengan harga tinggi.

Bukan ini yang diajarkan, yang diajarkan adalah kita harus memiliki rasa untuk saling menghormati, saling menyayangi dan mengasihi.

Jika dibilang minder, bukan itu maksudnnya, jika dibilang ga’ update, ga maju, juga bukan itu pula maknanya, namun karena seringkali kita melupakan sikap Iso Rumongso, akhirnya timbul rasa kita lebih dibandingkan orang lain, kita merasa tinggi hati, merasa paling diantara yang lain, dan akhirnya timbul rasa sombong dari dalam hati kita, perubahan yang secara halus inilah yang membuat kita menjadi teman, kawab bahkan bersahabat dengan setan.

Rasa Rumongso Iso adalah rasa untuk lebih melihat kedalam diri kita terlebih dahulu, membesarkan rasa introspeksi diri, menguatkan pondasi hati kita, karena kita juga bisa melihat kesekitar kita, siapa yang lebih membutuhkan, inilah yang menjadi keindahan hidup, menjalin silaturahmi tanpa orang lain tahu, karena kita turut memikirkan nasib orang lain diatas nasib kita. Dengan menggunakan ilmu , kenapa kita tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, sedangkan itu adalah suatu amalan yang nanti pahalanya tidak akan putus hingga kita di alam barzah.

Beberapa Pesan yang mungkin bisa dijadikan pedoman, dalam mengarungi hidup yang Keras ini,

1. Jangan memiliki perasaan, merasa paling benar.

2. Jangan memiliki perasaan, merasa paling pintar.

3. Jangan memiliki perasaan, merasa paling tahu (faham/mengerti).

4. Jangan sampai memiliki sifat yang tidak baik

Semua manusia PASTI akan mati, dan akan kembali ke hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Ketika datang ke dunia (lahir) tidak membawa apa-apa, dan ketika akan pergi dari dunia (mati) pun tidak akan membawa apa-apa. Jadi berbuat baiklah sepanjang hidupmu.

*inspirasi dikala terbitnya sang mentari menyinari kota jakarta

2 thoughts on “Ojo Rumongso Iso, tapi Iso Rumongso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s